Apa yang menyebabkan seseorang menjadi trauma, baik secara psikologis maupun emosional?
Apakah karena peristiwa yang menyakitkan, sampai kehilangan nyawa seseorang yang dicintai?
Semua itu pastinya menyakitkan dan membekas didalam jiwanya. Seperti halnya banyak orang yang trauma karena bencana alam, setiap kali gambaran bencana alam itu muncul dia akan merasa ketakutan, gemetaran dan juga merasa bingung. Perubahan drastis dari seseorang akibat trauma memang tidak ada jalan lain selain harus menghadapinya.
Berikut ini adalah cara yang bisa anda lakukan jika anda atau teman-teman anda sedang dalam masa trauma:
- Mengenali gejala-gejala stres traumatik
- Memahami peran media dalam stress traumatis
- Belajar menghadapi perasaan atau emosi yang menyakitkan
- Meminta bantuan dari orang lain (keluarga, teman, dan sebagainya) secara tatap muka
- Bangun dan seringlah bergerak
- Membuat pengurangan stress sebagai prioritas
- Belajar lebih dengan membaca artikel-artikel terkait tentang trauma
Apa itu stress traumatik?
Stress traumatik adalah reaksi normal terhadap peristiwa traumatis seperti bencana alam, kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan pesawat, tertembak, atau serangan teroris. Peristiwa tersebut menyebabkan stress yang luar biasa-tidak hanya untuk korban, tetapi juga saksi dan bahkan mereka berulang kali melihat gambaran mengerikan dari peristiwa traumatik yang beredar di media sosial dan sumber berita di televisi maupun di surat kabar.
Biasanya, pikiran dan perasaan stres traumatik yang mengganggu akan perlahan menghilang seiring kehidupan yang dijalani kembali normal dalam beberapa hari atau minggu setelah kejadian yang membuat trauma tersebut. Anda dapat memudahkan proses dengan mengingat hal-hal sebagai berikut:
Orang bereaksi dengan cara yang berbeda pada kejadian traumatis. Tidak ada cara yang "benar" atau "salah" untuk merespon dari hal tersebut. Jangan katakan pada diri sendiri (atau orang lain) apa yang harusnya dipikirkan, rasakan, atau lakukan.
Orang bereaksi dengan cara yang berbeda pada kejadian traumatis. Tidak ada cara yang "benar" atau "salah" untuk merespon dari hal tersebut. Jangan katakan pada diri sendiri (atau orang lain) apa yang harusnya dipikirkan, rasakan, atau lakukan.
Hindari berpikir berlebihan pada peristiwa traumatis tersebut. Berfikir berulang-ulang atau melihat gambaran mengerikan berulang-ulang dapat membanjiri sistem saraf anda, sehingga sulit untuk berpikir jernih kembali.
Mengabaikan perasaan Anda akan memperlambat pemulihan. Mungkin ini tampak lebih baik saat menghindari emosi atau perasaan yang anda alami/rasakan, tetapi emosi atau perasaan itu ada tergantung apakah Anda memperhatikannya atau tidak. Bahkan perasaan yang kuat akan lewat begitu saja jika Anda hanya membiarkan diri Anda merasakan apa yang Anda rasakan.
Mengabaikan perasaan Anda akan memperlambat pemulihan. Mungkin ini tampak lebih baik saat menghindari emosi atau perasaan yang anda alami/rasakan, tetapi emosi atau perasaan itu ada tergantung apakah Anda memperhatikannya atau tidak. Bahkan perasaan yang kuat akan lewat begitu saja jika Anda hanya membiarkan diri Anda merasakan apa yang Anda rasakan.
Tanda-tanda dan gejala stres traumatis
Apakah Anda secara langsung dipengaruhi oleh peristiwa traumatis, itu hal normal jika anda merasa cemas, takut, dan tidak pasti apa yang akan terjadi kedepannya. Sistem saraf Anda telah kewalahan akibat stres, memicu berbagai emosi langsung dan reaksi fisik. Reaksi ini pada stress traumatis sering datang dan pergi dalam beberapa fase. Mungkin ada saat-saat ketika Anda merasa gelisah dan cemas, dan saat-saat lainnya Anda merasa terputus dan mati rasa.
Respon atau reaksi emosional yang normal pada peristiwa traumatis
- Kaget dan tidak percaya - Anda mungkin memiliki waktu yang sulit menerima kenyataan apa yang terjadi.
- Takut - bahwa hal yang sama akan terjadi lagi, atau bahwa Anda akan kehilangan kontrol atau putus asa.
- Kesedihan - terutama jika orang terdekat anda meninggal baik keluarga maupun sahabat ataupun kekasih.
- Ketidakberdayaan - secara tiba-tiba, tidak pernah menduga akan terjadi serangan teroris, kecelakaan, atau bencana alam, dapat membuat Anda merasa rentan dan tak berdaya
- Rasa bersalah - satu-satunya yang selamat ketika orang lain meninggal, atau bahwa sebenarnya Anda bisa membantu atau melakukan lebih banyak sebelum peristiwa berakhir.
- Kemarahan - Anda mungkin marah pada Tuhan atau orang lain karena Anda merasa bertanggung jawab.
- Malu - terutama atas perasaan atau ketakutan yang tidak dapat anda kontrol.
- Lega - Anda mungkin merasa lega bahwa yang terburuk sudah berakhir, dan bahkan berharap bahwa hidup Anda akan kembali normal.
Penting untuk mengetahui bagaimana gejala fisik stress traumatis, agar gejala tersebut tidak menghantui anda. Gejala tersebut akan pergi bila anda tidak melawan hal-hal berikut:
- Gemetaran
- Jantung berdebar
- Bernafas dengan cepat
- Benjolan di tenggorokan; perasaan tersendat
- Perut berputar
- Merasa pusing atau pingsan
- Keringat dingin
- Fikiran tidak teratur

Comments
Post a Comment